Bersyukur berasal dari bahasa Arab "syakara", yang berarti "fataha" atau
membuka. Bersyukur berarti membuka diri, membuka hati, dan membuka
pikiran untuk mendapatkan pencerahan dari berbagai sumber. Rasa syukur
harus dimulai dari "membuka diri" terhadap apa yang sudah diberikan
Alloh kepada
kita. Tanpa membuka diri, akan sulit bagi kita untuk mensyukuri apa yang telah ada.
Jika
kita tidak membuka diri, kita akan terjebak untuk mengingkari nikmat.
ada dua hal yang menyebabkan manusia mengingkari nikmat, pertama, merasa
bahwa dirinya belum diberi apa-apa, dan kedua merasa bahwa apa yang ia
dapatkan sekarang semata-mata hasil kerja kerasnya, dan bukan pemberian
Alloh.
Orang yang merasa belum mendapatkan apa-apa, merasa hidupnya paling
merana di dunia, dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Ia selalu
melihat ke atas, mendongakkan
kepala kepada orang-orang yang diberi rezeki lebih banyak darinya. Jika
ada orang yang lebih maju darinya, ia merasa bahwa Alloh tidak adil. Ia
merasa sendiri dan tidak mendapatkan rahmat serta pertolongan dari
Alloh. Padahal, itu semua terjadi karena ia tidak melihat hal-hal positif
yang ada pada dirinya. Ia selalu melihat semuanya secara negatif, dari
sisi yang berseberangan. Ia tidak menyadari betapa nikmat Alloh begitu
banyak telah diberikan kepadanya. Ia tidak menyadari bahwa begitu banyak
orang yang lebih tidak beruntung dibandingkan dirinya. Kesadaran
dirinya tertutup, dan karenanya ia merasa tidak mendapatkan apa-apa.
Karena itulah sangat menarik yang di firmankan oleh Alloh SWT
"Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran,
penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu
bersyukur." (QS. Al-Mulk: 23)
Al-Qur'an menyebut tiga hal yang sering tertutup oleh yang menghalangi
manusia untuk bersyukur, yaitu penglihatan (abshar), pendengaran
(sam'un), dan hati nurani (af'idah). Bukan hanya sekali Alloh menekankan
kketiga hal ini harus dibuka. Ini menunjukkan bahwa tiga hal itu memiliki posisi terpenting agar manusia mau bersyukur.
Membuka mata, penglihatan (abshar) menjadi syarat pertama yang harus
dilakukan. membuka penglihatan berarti melihat apa-apa yang ada
disekeliling kita, dan menyadari betapa banyak nikmat yang telah
diberikan Alloh kepada kita. Membuka mata menjadi titik awal rasa syukur
kepada nikmat yang telah Alloh berikan.
Nabi Muhammad mengajarkan,
agar kita pandai bersyukur, kita mesti melihat orang-orang yang secara
ekonomi dan kehidupan jauh dibawah kita. Dengan memperhatikan hal
tersebut, kita akan merasakan bahwa nikmat yang kita terima jauh lebih
besar daripada nikmat yang diberikan kepada orang lain.
Lihatlah orang-orang yang mempunyai harta lebih sedikit dibanding kita,
lebih miskin dan lebih kekurangan. Lihatlah orang-orang yang mempunyai
kedudukan jauh dibawah kita. Lihatlah orang-orang yang sakit. Lihatlah
orang-orang yang untuk mendapatkan pekerjaan atau penghasilan kecil pun
harus bersusah payah dan bekerja keras membanting tulang. Dan lihatlah
berbagai kekurangan yang ada pada orang lain. Semua itu akan membuat
kita lebih pandai bersyukur.
Setelah membuka mata, orang juga harus membuka telinga. Membuka telinga
artinya mendengarkan secara jernih berbagai masukan dan informasi dari
luar. Terbukanya wawasan dan pengetahuan yang kita miliki akan membebri
makna lebih besar bagi proses memahami nikmat yang telah diberikan.
Membuka diri secara lebih besar ada pada membuka hati nurani. Membuka
hati nurani artinya berjiwa besar terhadap apoa yang terjadi pada diri
kita, baik maupun buruk, adalah nikmat yang diberikan Alloh untuk
menguji apakah kita tambah "bersyukur" atau "mengingkari" nikmat
tersebut.
Berjiwa besar artinya memahami bahwa jika mendapatkan suatu nikmat yang
buruk menurut pandangan kita itu bukanlah akhir dari segalanya. Nikmat
yang buruk akan memberikan kesadaran bahwa selama ini begitu banyak
nikmat yang diberikan Alloh yang belum kita syukuri. Orang tidak akan
merasakan nikmatnya sehat jika ia tidak pernah sakit. Tatkala sakit
itulah orang akan merasakan betapa kesehatan merupakan nikmat yang
sangat berharga.
Begitu juga orang tidak bisa merasakan nikmatnya mempunyai harta yang
banyak, jika ia tidak pernah merasakan hidup sebagai orang miskin.
Karena itu, jika mempunyai kekurangan, kekurangan itu mesti kita syukuri
dengan baik karena dengan kekurangan itulah kita bisa merasakan nikmat
yang sesungguhnya saat kita merasakan kelebihan.
Jiwa besar itu juga diperlukan saat kita mendapatkan nikmat yang menurut
kita positif, Nikmat sehat, rezeki, dan berbagai nikmat lain adalah
pemberian yang tidak diberikan kepada semua orang. Bersyukur akan
mencegah kita dari kesombongan bahwa apa yang kita terima adalah hasil
upaya kita sendiri. Bersyukur akan memberikan kesadaran bahwa dibalik
usaha-usaha yang kita lakukan ada tangan Alloh yang membantu memberikan
nikmat itu.
Kesadaran semacam itu akan memberikan ketenangan hati, apapun kondisi
yang menimpa kita. Jika kita mendapatkan nikmat yang banyak, kita akan
bersyukur bahwa Alloh memberikan apa yang kita usahakan. Tetapi
sebaliknya, jika tertimpa musibah atau situasinya tidak sesuai dengan
apa yang kita inginkan, kita juga tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Mengapa bersyukur bisa menambah nikmat yang telah diberikan ?? Firman Alloh yang sangat terkenal dalam Al-Qur'an mengatakan
"Dan (ingatlah) ketika tuhanmu memaklumkan, 'sesungguhnya jika kamu
bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti adzab-Ku sangat pedih." (QS.
Ibrahim: 7)
Bertsyukur bisa menambah nikmat, karena dengan bersyukur manusia
menemukan kedamaian hati dan orientasi hidup yang benar. Bersyukur akan
membuat hidup manusia lebih bermakna. Ia tidak legi berpikir jangka
pendek, tetapi bagaiamana memaknai hidup secara lebih baik di masa
mendatang.
Mensyukuri nikmat yang telah diberikan tidak hanya terucap di bibir,
tetapi juga dengan tindakan-tindakan yang mendukung sifat dan sikap
positif tersebut. Bersyukur dengan harta yang diberikan adalah dengan
membelajakan harta tersebut untuk nilai-nilai positif dalam kehidupan,
yang berguna baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat secara
umum.
Mensyukuri nikmat sehat berarti menggunakan kesehatan tersebut
sebaik-baiknya dengan bekerja keras, tidak bermalas-malasan, dan selalu
mengembangkan diri secara serius. Mensyukuri nikmat kehidupan berarti
tidak menyia-nyiakan hidup ini dengan berbagai kegiatan yang tidak
berguna dan sia-sia.
Makna pertambahan nikmat dalam ayat Al-Qur'an di atas tentu saja bukan
semata-mata ditambah nikmatnya, tetapi juga atas dasar kerja keras yang
kita lakukan. Jika orang berpikir positif, berjiwa besar, dibarengi
dengan kerja keras dalam hidupnya, akan terbuka potensinya untuk
menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
produktivitas yang lebih tinggi inilah jelmaan dari janji Alloh bahwa
Dia akan menambah niukmat bagi orang-orang yang mau bersyukur. Dengan
bersyukur orang akan lebih termotovasi dalam hidup, bekerja lebih keras,
tumbuh sikap posoitif dan pantang menyerah. Kondisi negatif apapun
difahami sebagai wadah untuk membuat hidup ini lebih baik. Itulah makna
nikmat yang akan selalu ditambah jika kita bersyukur.
diambil dari buku
Man Jadda Wa Jadaa